Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peristiwa bersejarah pada tahun 1928 tersebut menjadi bukti bahwa para pemuda mampu menyatukan tekad demi kepentingan yang lebih besar. Mereka berasal dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang, tetapi memiliki cita-cita yang sama, yaitu mewujudkan persatuan bangsa Indonesia.
Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah. Nilai-nilai di dalamnya perlu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk oleh para remaja masjid. Pemuda muslim perlu belajar mendahulukan kepentingan bersama, tidak membesar-besarkan perbedaan, menumbuhkan kepedulian, mengembangkan potensi, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemuda sering dihadapkan pada pilihan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Misalnya, memilih menggunakan waktu untuk kesenangan sendiri atau menyisihkan waktu untuk membantu kegiatan masjid. Mendahulukan kepentingan bersama bukan berarti mengabaikan kebutuhan pribadi, melainkan mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan prioritasnya.
Allah memberikan teladan tentang sikap mendahulukan orang lain dalam firman-Nya berikut ini.
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Wa yu'tsiruuna 'alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah.
Artinya: Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. (QS. Al-Hasyr 9)
Surah Al-Hasyr ayat 9 tersebut menggambarkan kemuliaan sikap mendahulukan orang lain. Seorang pemuda muslim hendaknya tidak hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia juga perlu memikirkan keluarga, teman, jamaah masjid, dan masyarakat di sekitarnya.
Dalam organisasi remaja masjid, sikap ini dapat diwujudkan dengan bersedia membantu meskipun tidak mendapatkan pujian, menjalankan tugas yang telah disepakati, serta mengutamakan keberhasilan kegiatan daripada keinginan untuk menonjolkan diri. Jika setiap orang hanya ingin dilayani, kegiatan akan sulit berjalan. Namun, jika setiap orang bersedia mengambil bagian, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan.
Selain mendahulukan kepentingan bersama, pemuda juga perlu belajar menyikapi perbedaan dengan bijaksana. Perbedaan pendapat, kebiasaan, kemampuan, dan latar belakang merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan, bermusuhan, atau memutus hubungan persaudaraan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Innamal mu'minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum wattaqullaaha la'allakum turhamuun.
Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat:10)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa persaudaraan harus dijaga, sedangkan perselisihan perlu diselesaikan dengan cara yang baik. Dalam kehidupan remaja masjid, perbedaan pendapat tentang kegiatan, pembagian tugas, atau cara menjalankan program seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar bermusyawarah.
Pemuda yang dewasa bukanlah pemuda yang selalu merasa pendapatnya paling benar, melainkan pemuda yang mampu mendengarkan orang lain, menerima masukan, dan mencari jalan terbaik. Jangan sampai persoalan kecil dibesar-besarkan hingga merusak persahabatan dan menghambat kegiatan yang bermanfaat.
Persatuan juga membutuhkan hati yang penuh kepedulian. Pemuda muslim tidak cukup hanya pandai berbicara tentang persaudaraan, tetapi perlu memiliki kepekaan terhadap keadaan orang lain. Ketika ada teman yang sedang kesulitan, jamaah yang membutuhkan bantuan, atau tetangga yang mengalami musibah, hendaknya tumbuh keinginan untuk membantu sesuai dengan kemampuan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Man laa yarham laa yurham.
Artinya: Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim tersebut mengingatkan pentingnya kasih sayang. Kepedulian bukan hanya perasaan yang tersimpan di dalam hati, melainkan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Menyapa teman yang sedang bersedih, menjenguk orang sakit, membantu orang tua, menjaga kebersihan masjid, dan ikut meringankan beban masyarakat merupakan contoh sederhana dari kepedulian.
Remaja masjid dapat menjadi lingkungan yang menumbuhkan kasih sayang. Jangan sampai masjid hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah akrab, sedangkan remaja yang baru datang justru merasa asing. Sambutlah teman baru dengan ramah, hindari ejekan yang menyakiti hati, dan bangunlah suasana yang membuat setiap orang merasa diterima selama berada dalam kebaikan.
Pemuda juga memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan. Masa muda merupakan kesempatan untuk belajar, membangun kebiasaan baik, memperluas wawasan, dan melatih tanggung jawab. Energi, kreativitas, keberanian, serta kemampuan mempelajari hal-hal baru dapat menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan positif.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Al-mu'minul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallaahi minal mu'minidh-dha'iifi, wa fii kullin khair.
Artinya: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. (HR. Muslim)
Hadis riwayat Muslim tersebut mengajarkan agar seorang muslim berusaha menjadi pribadi yang kuat. Kekuatan tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mencakup iman, ilmu, mental, akhlak, dan kesungguhan dalam menjalankan kebaikan.
Pemuda yang memiliki kemampuan berbicara dapat belajar menjadi penceramah atau pembawa acara. Pemuda yang menyukai teknologi dapat membantu mengelola media sosial masjid. Mereka yang senang mengajar dapat mendampingi anak-anak belajar mengaji, sedangkan yang memiliki kemampuan mengatur kegiatan dapat membantu menyelenggarakan program sosial dan keagamaan.
Potensi tidak akan berkembang jika hanya disimpan. Kemampuan perlu dilatih, ilmu perlu dipelajari, dan kesempatan perlu dimanfaatkan. Tidak perlu menunggu menjadi orang yang hebat untuk mulai berbuat baik. Mulailah dari kemampuan yang dimiliki, kemudian tingkatkan secara bertahap dengan kesungguhan dan doa kepada Allah.
Tujuan mengembangkan potensi bukan sekadar agar dikenal atau mendapatkan pujian. Kemampuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Sebab, ukuran keberhasilan seorang pemuda tidak hanya terletak pada prestasi pribadi, tetapi juga pada kebaikan yang dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Khairun naasi anfa'uhum linnaas.
Artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Hadis tersebut dikenal luas sebagai motivasi untuk memberikan manfaat kepada sesama. Para ulama memiliki pembahasan mengenai derajat riwayat ini, tetapi makna umum tentang keutamaan berbuat baik kepada orang lain sejalan dengan banyak ajaran Islam.
Menjadi pemuda yang bermanfaat tidak harus dimulai dengan program besar. Membantu menjaga kebersihan masjid, mengajak teman untuk salat berjamaah, mendampingi anak-anak belajar Al-Qur'an, mengunjungi warga yang sakit, membantu korban musibah, atau membuat konten digital yang mendidik merupakan contoh kontribusi yang dapat dilakukan.
Di era digital, pemuda juga perlu menyadari bahwa setiap unggahan, komentar, dan pesan yang dibagikan dapat membawa pengaruh. Gunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu, menguatkan persaudaraan, dan mengajak kepada kebaikan. Hindari menyebarkan fitnah, mempermalukan orang lain, atau memperbesar perselisihan hanya demi mendapatkan perhatian.
Semangat Sumpah Pemuda dapat dihidupkan melalui langkah-langkah sederhana tersebut. Pemuda yang mendahulukan kepentingan bersama akan belajar bertanggung jawab. Pemuda yang tidak membesar-besarkan perbedaan akan menjaga persatuan. Pemuda yang memiliki kasih sayang akan peka terhadap kesulitan orang lain. Pemuda yang mengembangkan potensinya akan semakin siap berkontribusi, sedangkan pemuda yang berorientasi pada kemanfaatan akan berusaha menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Karena itu, marilah para remaja masjid memulai perubahan dari diri sendiri. Perbaiki ibadah, tingkatkan ilmu, jaga akhlak, hormati orang tua, sayangi teman, dan ambil bagian dalam kegiatan yang bermanfaat. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik dan jangan merasa terlalu muda untuk memberikan kontribusi.
Ada tiga pertanyaan yang patut kita renungkan. Sudahkah kita bersedia mendahulukan kepentingan bersama ketika harus memilih? Sudahkah kita menjaga persaudaraan meskipun terdapat perbedaan? Sudahkah kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain?
Semoga semangat Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi kita untuk tidak hidup hanya bagi diri sendiri. Jadilah pemuda muslim yang kuat imannya, luas ilmunya, baik akhlaknya, lembut hatinya, dan besar manfaatnya. Dengan pertolongan Allah, pemuda yang bersatu dalam kebaikan dapat menjadi bagian dari perubahan yang membawa keberkahan bagi masjid, masyarakat, bangsa, dan umat.