Pernahkah kita merasa iri melihat teman memiliki HP yang bagus, sepatu baru, uang saku lebih banyak, atau bisa membeli apa saja yang diinginkan, sementara kita tidak bisa memilikinya?
Perasaan seperti itu bisa muncul pada siapa saja, termasuk remaja. Namun, kita harus memahami bahwa Allah memberikan nikmat dan ujian kepada setiap orang dengan keadaan yang berbeda-beda. Ada orang yang sedang menghadapi kesulitan, ada pula yang sedang menikmati kelapangan. Keduanya sama-sama membutuhkan Allah dan memiliki tanggung jawab dalam menyikapi keadaan masing-masing.
A. Mengenal Ahlul Musibah dan Ahlul ‘Afiyah
1. Ahlul Musibah (أَهْلُ الْمُصِيبَةِ)
Ahlul musibah berarti orang-orang yang sedang tertimpa musibah atau menghadapi kesulitan. Musibah bisa berupa sakit, kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, atau keadaan ketika seseorang tidak mampu memiliki sesuatu yang dimiliki teman-temannya.
Namun, tidak semua hal yang tidak kita miliki otomatis merupakan musibah. Bisa jadi itu adalah keterbatasan kemampuan, kebutuhan yang belum terpenuhi, atau keinginan yang sebenarnya tidak harus dipenuhi. Tidak memiliki barang seperti teman bukan berarti hidup kita gagal, orang tua tidak menyayangi kita, atau Allah tidak menyayangi kita.
Dalil QS. Al-Baqarah: 156
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Latin: Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’”
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim hendaknya bersabar dan tetap berbaik sangka kepada Allah. Jangan sampai kita menyakiti hati orang tua hanya karena mereka belum mampu membelikan barang yang kita inginkan.
2. Ahlul ‘Afiyah (أَهْلُ الْعَافِيَةِ)
Ahlul ‘afiyah berarti orang-orang yang memperoleh afiyah, yaitu keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan keadaan yang baik. Dalam kehidupan remaja, contohnya adalah mereka yang memiliki HP bagus, perlengkapan sekolah lengkap, uang saku cukup, tubuh sehat, dan orang tua yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan.
Namun, banyaknya barang bukan ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Dalil QS. Al-Hujurat: 13
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Latin: Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Dalil QS. At-Takatsur: 8
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Latin: Ṡumma latus’alunna yauma’iżin ‘anin-na‘īm.
Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat bukan sekadar sesuatu yang boleh dinikmati, tetapi juga harus dipertanggungjawabkan.
B. Ketika Tidak Memiliki Apa yang Dimiliki Teman
Salah satu ujian yang dekat dengan kehidupan remaja adalah kebiasaan membandingkan diri dengan teman. Ada teman yang memakai HP terbaru, sedangkan kita memakai HP lama. Ada teman yang bisa membeli apa saja, sedangkan kita harus menabung terlebih dahulu.
1. Belajar sabar dan tidak iri berlebihan
Dalil QS. An-Nisa’: 32
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
Latin: Wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba‘ḍakum ‘alā ba‘ḍ.
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
Kita boleh memiliki cita-cita untuk mempunyai HP yang lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita membenci keadaan sendiri atau merendahkan orang tua. Keadaan ekonomi keluarga bukan ukuran harga diri seorang anak.
2. Belajar qanaah, bukan berhenti berusaha
Qanaah adalah sikap menerima pemberian Allah dengan lapang hati dan merasa cukup, tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.
Dalil HR. Muslim, no. 1054
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Latin: Qad aflaḥa man aslama, wa ruziqa kafāfan, wa qanna‘ahullāhu bimā ātāh.
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.”
Qanaah bukan berarti kita dilarang memiliki cita-cita. Kita boleh belajar, menabung, meningkatkan keterampilan, dan berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik melalui cara yang halal.
3. Jangan mengukur kebahagiaan dari barang
Dalil QS. Al-An‘am: 165
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
Latin: Wa huwal-lażī ja‘alakum khalā’ifal-arḍi wa rafa‘a ba‘ḍakum fauqa ba‘ḍin darajātin liyabluwakum fī mā ātākum.
Artinya: “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian yang lain, untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
Persoalannya bukan hanya siapa yang mendapatkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana setiap orang menyikapi dan menggunakan pemberian Allah.
C. HP dan Nikmat yang Akan Dipertanggungjawabkan
HP bisa digunakan untuk belajar, berkomunikasi dengan orang tua, membaca Al-Qur’an digital, mencari ilmu, dan membuat karya. Namun, HP juga dapat digunakan untuk menonton konten haram, menyebarkan aib, menghina teman, berjudi daring, menipu, atau menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya, “HP siapa yang paling mahal?” tetapi juga, “HP yang aku miliki ini akan aku gunakan untuk apa ketika kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah?”
1. Semua nikmat akan ditanya
Dalil HR. At-Tirmidzi, no. 2417
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
Latin: Lā tazūlu qadamā ‘abdin yaumal-qiyāmati ḥattā yus’ala ‘an ‘umrihī fīmā afnāh, wa ‘an ‘ilmihī fīma fa‘al, wa ‘an mālihī min aina iktasabahū wa fīma anfaqah, wa ‘an jismihī fīma abl āh.
Artinya: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; tentang ilmunya, apa yang telah dilakukannya dengan ilmu itu; tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa digunakannya.”
Hadis ini mengingatkan kita tentang pertanggungjawaban atas umur, ilmu, harta, dan tubuh. HP memang tidak disebut secara khusus, tetapi waktu, uang, ilmu, dan anggota tubuh yang digunakan saat bermain HP perlu kita perhatikan.
Jika kita menghabiskan lima jam sehari untuk bermain HP, dalam satu minggu jumlahnya menjadi 35 jam. Jangan sampai hiburan menghabiskan waktu belajar, mengganggu salat, mengurangi waktu bersama keluarga, atau membuat kita lalai dari kewajiban.
2. HP bisa menjadi jalan pahala atau dosa
Dalil HR. Muslim, no. 1893
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Latin: Man dalla ‘alā khairin falahū miṡlu ajri fā‘ilih.
Artinya: “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
Gunakan HP untuk membagikan ilmu yang benar, mengingatkan teman agar salat, atau membuat konten bermanfaat. Sebaliknya, jangan menyebarkan fitnah, membuka aib teman, atau membagikan konten maksiat.
Dalil QS. Qaf: 18
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Latin: Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Sebelum menekan tombol kirim atau unggah, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini menyakiti orang lain? Apakah aku siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
D. Ahlul ‘Afiyah Jangan Merendahkan Ahlul Musibah
Jika orang tua mampu membelikan HP, memenuhi kebutuhan sekolah, dan memberikan uang saku yang cukup, jangan jadikan nikmat tersebut alasan untuk merendahkan orang lain.
1. Jangan menyakiti hati teman yang kurang mampu
Dalil HR. Muslim, no. 2564
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Latin: Biḥasbi imri’in minas-syarri an yaḥqira akhāhul-muslim.
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim.”
Jangan menjadikan HP, sepatu, pakaian, atau uang saku sebagai bahan ejekan. Merendahkan teman bukan tanda bahwa kita lebih hebat.
2. Jadikan nikmat sebagai sarana menolong
Dalil QS. Al-Baqarah: 195
وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Latin: Wa aḥsinū, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn.
Artinya: “Berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Gunakan kelapangan rezeki untuk berbagi makanan, membantu teman memahami pelajaran, atau bersedekah. Bantulah dengan cara yang tidak membuat penerima merasa direndahkan.
E. Bagaimana Jika Kita Merasa Iri kepada Teman?
Ada perbedaan antara keinginan untuk memiliki sesuatu yang baik dan iri yang membuat kita tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat. Kita boleh termotivasi oleh teman yang rajin belajar atau menabung untuk membeli barang yang dibutuhkan melalui cara halal. Namun, jangan berharap nikmat teman hilang atau membenci orang tua sendiri.
Dalil HR. Muslim, no. 2963
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
Latin: Unẓurū ilā man asfala minkum, wa lā tanẓurū ilā man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru allā tazdarū ni‘matallāh.
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
Hadis ini mengajarkan kita untuk melatih rasa syukur. Tujuannya bukan merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan menghargai nikmat Allah dan menumbuhkan kepedulian.
F. Muhasabah untuk Remaja
Mari kita renungkan beberapa pertanyaan berikut dengan jujur di dalam hati.
- Apakah aku pernah merasa malu dengan keadaan ekonomi keluarga atau membandingkan orang tuaku dengan orang tua teman?
- Jika penggunaan HP-ku selama tujuh hari terakhir diperlihatkan kepadaku pada hari kiamat, apakah aku bangga dengan cara menggunakannya?
- Berapa banyak waktuku digunakan untuk belajar, beribadah, membantu orang tua, dan beristirahat?
- Apakah aku pernah mengejek atau membuat teman minder karena barang yang dimilikinya?
- Apakah aku berusaha meningkatkan kemampuan dan memperbaiki akhlak, atau justru terlalu sibuk menginginkan kehidupan orang lain?
Muhasabah adalah kesempatan untuk jujur kepada diri sendiri dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
G. Tantangan Setelah Kajian
- Setiap hari, sebutkan tiga nikmat yang sudah Allah berikan.
- Tetapkan waktu untuk belajar, beribadah, dan beristirahat. Kurangi aktivitas digital yang tidak bermanfaat.
- Berhenti membandingkan. Jangan mengejek barang milik teman dan doakan agar nikmatnya membawa kebaikan.
- Hormati orang tua. Jangan memaksa mereka memenuhi keinginan di luar kemampuan.
- Gunakan waktu, uang, kemampuan, dan perangkat yang dimiliki untuk belajar, beribadah, membantu sesama, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
H. Penutup: Bukan Seberapa Banyak yang Kita Miliki, tetapi Bagaimana Kita Menyikapinya
Wahai para remaja, kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Ada yang sejak kecil memiliki banyak fasilitas. Ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang bagi orang lain terasa biasa.
Jangan membenci keadaanmu hanya karena berbeda dari teman-temanmu. Jangan pula menjadikan kesederhanaan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Jika hari ini belum memiliki HP yang bagus, tetaplah belajar. Jika uang saku terbatas, tetaplah berakhlak mulia. Jika belum mampu membeli sesuatu, bersabarlah sambil berusaha melalui jalan yang halal.
Jika Allah memberikan banyak kemudahan, jangan sombong. Gunakan nikmat itu untuk mendekat kepada-Nya dan membantu sesama.
Ahlul musibah membutuhkan kesabaran, sedangkan ahlul ‘afiyah membutuhkan rasa syukur. Keduanya membutuhkan iman dan ketakwaan.
Pertanyaan terpenting bukanlah, “Mengapa temanku memiliki lebih banyak daripada aku?” melainkan, “Apa yang telah aku lakukan dengan nikmat yang Allah berikan kepadaku?”
Doa Penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Latin: Allāhumma innā nas’alukal-‘afwa wal-‘āfiyata fid-dunyā wal-ākhirah.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampunan dan afiyah kepada-Mu di dunia dan akhirat.”
Semoga Allah menjadikan kita remaja yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, tidak merendahkan sesama, serta mampu mempertanggungjawabkan waktu, harta, ilmu, dan seluruh nikmat yang dititipkan kepada kita. Amin.