Langsung ke konten utama

Kebiasaan Buruk Saat Makan

Materi kali ini membahas kebiasaan yang seolah normal orang lakukan, padahal menurut ajaran Islam ada larangan melakukannya. Remaja muslim harus memahami hal ini, agar terhindar dari perbuatan tersebut.

Kebiasaan Buruk Saat Makan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini dan menjelaskan kepada kita mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ yang telah menuntun umat manusia kepada jalan yang lurus.

Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai banyak kebiasaan yang dianggap biasa dan wajar oleh masyarakat. Padahal, jika ditinjau dari ajaran Islam, sebagian dari kebiasaan itu tidak sesuai dengan tuntunan syariat.

Mari kita pelajari beberapa contohnya agar kita bisa memperbaiki diri dan meneladani adab Rasulullah ﷺ. Kali ini pembahasan kita fokuskan pada aktivitas saat makan dan minum.

1. Makan Sambil Berdiri atau Berjalan

Dalam kehidupan kita sehari-hari, makan atau minum sambil berdiri sudah dianggap lumrah. Banyak orang melakukannya di pesta, acara formal, atau bahkan di rumah ketika terburu-buru. Namun dalam Islam, Rasulullah ﷺ mengajarkan adab makan dan minum yang sangat indah, yang tidak hanya berhubungan dengan sopan santun, tetapi juga menjaga kesehatan dan mencerminkan ketenangan hati.

Rasulullah ﷺ tidak biasa makan dan minum sambil berdiri, bahkan beliau melarang perbuatan tersebut karena termasuk perilaku yang tidak sesuai dengan adab Islam.

Dalilnya terdapat dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

قالَ أَنَسٌ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا. قَالَ قَتَادَةُ: فَقُلْنَا: فَالْأَكْلُ؟ فَقَالَ: ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ.

Qala Anas: naha Rasulullah shallallahu alaihi wasallam an yashrabar rajulu qaiman. Qala Qatadah: fa qulna fal aklu? Faqala: dzaka asyarru aw akhbats.

Anas berkata, “Rasulullah ﷺ melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qatadah berkata, “Lalu kami bertanya, bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab, “Itu lebih buruk atau lebih jelek.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan dua hal penting: 1. Rasulullah ﷺ melarang minum sambil berdiri. 2. Makan sambil berdiri lebih tidak disukai lagi, karena menunjukkan kurangnya ketenangan dan penghormatan terhadap nikmat Allah.

Selain itu, dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ juga menegaskan larangan minum dalam keadaan berdiri:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ.

Qala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: la yasyrabanna ahadukum qaiman, faman nasiya fal yastaqi.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa, hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini menunjukkan makruh tanzih, artinya perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan meskipun tidak sampai haram. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa uzur, bisa menunjukkan ketidakpedulian terhadap sunnah Rasulullah ﷺ.

Dari sisi kesehatan, para pakar menyebutkan bahwa minum sambil berdiri dapat mengganggu sistem pencernaan dan menimbulkan tekanan pada lambung. Ketika seseorang berdiri, cairan masuk ke dalam tubuh dengan cepat tanpa proses penyaringan alami, berbeda halnya saat kita duduk yang membuat aliran air lebih teratur dan tubuh lebih siap menerima.

Selain aspek fisik, hikmah terbesar dari larangan ini adalah adab dan ketenangan hati. Seorang muslim hendaknya makan dan minum dengan penuh kesadaran, tidak tergesa-gesa, serta menyertai setiap suapan dengan rasa syukur kepada Allah.

Makan dan minum dalam keadaan duduk juga melatih tawadhu’ (kerendahan hati) dan menjauhkan diri dari sifat angkuh. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, namun beliau tetap duduk dengan sederhana saat makan dan tidak bersandar, apalagi berdiri.

Oleh karena itu, marilah kita biasakan untuk makan dan minum dalam keadaan duduk, meneladani adab Rasulullah ﷺ. Dengan begitu, kita bukan hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga menjaga adab dan kemuliaan jiwa.

2. Makan Menggunakan Tangan Kiri

Di masyarakat modern, makan dengan tangan kiri sering dianggap sepele. Ada yang melakukannya karena tangan kanan memegang sendok lain, karena kebiasaan, atau karena merasa lebih praktis. Namun dalam Islam, makan dengan tangan kiri termasuk perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ.

Larangan ini bukan sekadar persoalan sopan santun, melainkan menyangkut ketaatan dan adab seorang hamba kepada Nabi-nya. Rasulullah ﷺ selalu mendorong umatnya agar menggunakan tangan kanan untuk hal-hal yang baik dan mulia, sedangkan tangan kiri untuk urusan yang kotor, seperti istinja (membersihkan najis).

Dalilnya terdapat dalam hadis sahih dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِيَسَارِهِ وَيَشْرَبُ بِيَسَارِهِ.

Idza akala ahadukum fal ya’kul biyaminihi, wa idza syariba fal yasyrab biyaminihi, fa inna asy-syaithana ya’kulu biyasarihi wa yasyrabu biyasarihi.

Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Dan apabila minum, hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjelaskan dengan tegas bahwa setan makan dan minum dengan tangan kiri. Maka, seorang muslim yang meniru kebiasaan itu berarti telah menyerupai perbuatan setan, meskipun tanpa niat. Karena itu, Rasulullah ﷺ mendidik umatnya agar memiliki adab yang berbeda dari makhluk yang dilaknat Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menegur seseorang yang makan dengan tangan kiri. Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَفَعَ رَجُلٌ طَعَامًا بِيَسَارِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلْ بِيَمِينِكَ. قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ. قَالَ: لَا اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ بَعْدُ.

Kunna inda an-nabiyyi shallallahu alaihi wasallam, fara fa’a rajulun tha’aman biyasarihi, faqalan nabiyyu shallallahu alaihi wasallam: kul biyaminik. Qala: la astathi’. Qala: la asta’ta’, ma mana’ahu illa al-kibr, fama rafa’aha ila fihi ba’du.

Kami pernah berada di dekat Nabi ﷺ, lalu ada seseorang yang makan dengan tangan kirinya. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Nabi ﷺ bersabda, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa.” Tidak ada yang menghalanginya (untuk makan dengan tangan kanan) kecuali kesombongan, maka setelah itu tangannya benar-benar tidak bisa diangkat ke mulutnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat tegas. Orang yang enggan mengikuti perintah Nabi karena sombong, justru ditimpa hukuman langsung berupa tidak mampu lagi mengangkat tangannya. Hal ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak menyepelekan sunnah yang tampak kecil.

Dari hadis-hadis tersebut, kita bisa memahami bahwa menggunakan tangan kanan dalam hal-hal baik adalah simbol ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun tangan kiri digunakan untuk hal-hal yang kurang baik atau yang mengandung kotoran, seperti beristinja, membuang sampah, atau membersihkan diri.

Selain sebagai bentuk ibadah, adab ini juga membawa manfaat praktis. Secara medis, tangan kanan umumnya lebih kuat dan lebih sering digunakan, sehingga lebih bersih dan terkendali ketika menyentuh makanan. Sedangkan tangan kiri bisa saja digunakan untuk hal-hal yang kurang higienis.

Maka, ketika seorang muslim makan dan minum dengan tangan kanan, ia sebenarnya sedang meneladani Rasulullah ﷺ, menjaga kebersihan, dan menanamkan rasa hormat terhadap nikmat Allah.

Mari kita biasakan mengucap “Bismillah”, makan dengan tangan kanan, dan berhenti sebelum kenyang. Adab sederhana ini, bila dilakukan dengan niat mengikuti sunnah, akan menjadi amal yang berpahala dan dicintai Allah.

3. Makan Sambil Bersandar

Kebiasaan makan sambil bersandar sering dianggap tanda kenyamanan dan kemewahan. Banyak orang merasa lebih santai jika makan sambil menyandarkan tubuh pada kursi atau bantal. Namun, tahukah kita bahwa Rasulullah ﷺ justru tidak pernah makan dalam keadaan bersandar?

Islam mengajarkan adab makan yang tidak hanya menunjukkan kesopanan, tetapi juga mencerminkan kerendahan hati dan rasa syukur terhadap nikmat Allah. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau sangat sederhana dalam setiap perbuatannya, termasuk ketika makan.

Dalil tentang hal ini diriwayatkan dari sahabat Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا أَنَا فَلَا آكُلُ مُتَّكِئًا.

Qala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: amma ana fala akulu muttaki-an.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Adapun aku, maka aku tidak makan sambil bersandar.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menolak gaya makan yang menunjukkan sikap berlebih-lebihan, kemewahan, atau kesombongan. Dalam bahasa Arab, “muttaqi’an” (bersandar) bisa berarti duduk dengan bersandar pada sesuatu atau makan dalam posisi yang menunjukkan kemegahan dan rasa puas diri.

Para ulama menjelaskan, larangan ini tidak semata pada posisi fisik bersandar, tetapi juga pada sikap hati yang muncul darinya — yaitu sikap sombong, malas, dan terlalu menikmati kenikmatan dunia.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan:

“Makan dengan bersandar termasuk kebiasaan orang yang hidup berlebihan. Adapun orang yang tawadhu’, ia makan dengan posisi duduk sederhana, tidak bersandar, dan tidak menampakkan kemewahan.”

Rasulullah ﷺ dikenal makan dengan posisi duduk tawarruk (menegakkan lutut kiri dan duduk di atas kaki kiri) atau iftirasy (duduk seperti posisi tahiyat awal). Beliau makan dengan rasa syukur, kesederhanaan, dan tidak sombong.

Selain dari sisi adab, makan sambil bersandar juga memiliki dampak kesehatan. Para dokter menyebutkan bahwa posisi bersandar ketika makan bisa menghambat kerja lambung, karena tekanan tubuh bagian belakang menyebabkan posisi pencernaan tidak sejajar, sehingga makanan sulit dicerna dengan baik.

Dengan demikian, larangan makan sambil bersandar membawa dua hikmah besar: Pertama, Hikmah adab: agar seorang muslim hidup dengan kesederhanaan, tidak meniru orang-orang yang hidup dalam kemewahan berlebihan. Kedua, Hikmah kesehatan: agar sistem pencernaan bekerja optimal dan tubuh tetap sehat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

Ma mala adami-un wi-’aan syarran min bathn, bihasbi ibni adama ukulatun yuqimna shulbah, fa in kana la mahala, fatsulutsun litha’amih, wa tsulutsun lisharabih, wa tsulutsun linafasih.

Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa makan bukan untuk bersenang-senang atau memuaskan hawa nafsu, tetapi untuk menjaga kekuatan agar bisa beribadah kepada Allah.

Jadi, makan sambil bersandar bukan sekadar masalah gaya, tetapi mencerminkan cara pandang seseorang terhadap nikmat Allah. Orang yang tawadhu’ akan makan dengan tenang, duduk dengan sopan, dan selalu mengingat bahwa makanan itu hanyalah sarana untuk beribadah, bukan tujuan hidup.

Maka, marilah kita meneladani Rasulullah ﷺ: makan dengan duduk yang tenang, tidak bersandar, tidak berlebihan, dan selalu disertai rasa syukur. Dengan begitu, setiap suapan makanan yang kita nikmati akan menjadi amal yang bernilai ibadah dan keberkahan.